JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Secara kumulatif, kasus ISPA di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota terdampak mencapai sekitar 283 ribu kasus.
Dari jumlah tersebut, 63.711 kasus diderita balita, sedangkan 219.559 kasus lainnya dialami kelompok usia di atas lima tahun. Kasus baru bertambah rata-rata sekitar 3.897 per hari.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengatakan, Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, masing-masing sekitar 74 ribu kasus. Kemenkes juga mengidentifikasi 12 daerah dengan kualitas udara berkategori berbahaya di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi, Sumatera Selatan, dan Riau.
Asap mengandung zat beracun
Menurut Then, asap karhutla tidak hanya membawa partikel halus PM2.5, tetapi juga karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun yang berisiko bagi kesehatan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit paru.
Untuk menangani dampaknya, Kemenkes telah mengerahkan lebih dari 2.100 tenaga kesehatan serta mendistribusikan jutaan masker ke wilayah terdampak di Kalimantan dan Sumatra.
Tips melindungi diri dari asap
- Kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat kabut asap pekat.
- Gunakan masker N95 atau KN95 bila harus keluar rumah; masker kain kurang efektif menyaring PM2.5.
- Tutup jendela dan ventilasi rumah saat kualitas udara memburuk.
- Perbanyak minum air putih dan konsumsi makanan bergizi.
- Segera ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak napas, batuk berkepanjangan, atau demam, terutama pada balita.