Rupiah Jebol Rp18.000, Jadi Mata Uang Terburuk di Asia Usai Ancaman MSCI

Ilustrasi uang rupiah dan dolar AS Ilustrasi uang rupiah dan dolar AS

JAKARTA – Nilai tukar rupiah akhirnya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026), rupiah melemah sekitar 87–89 poin atau 0,5 persen ke kisaran Rp18.025–Rp18.027 per dolar AS, tergantung sumber data.

Dengan pelemahan tersebut, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada hari itu. Rupiah bahkan sempat menyentuh Rp18.053 per dolar AS di tengah perdagangan.

Baca juga: Badai MSCI, IHSG Ambruk 11,57 Persen ke 5.185 dan Dua Kali Kena Trading Halt

Imbas pengumuman MSCI

Tekanan terhadap rupiah dipicu sentimen risk-off setelah penyedia indeks global MSCI membuka konsultasi untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Pengumuman itu memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham, yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 11,57 persen ke level 5.185.

Pelaku pasar khawatir status tersebut akan memicu arus keluar dana asing, sehingga permintaan dolar AS meningkat dan menekan rupiah. Data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan juga masih menjadi beban tambahan.

BI turun tangan

Bank Indonesia melakukan intervensi untuk meredam gejolak, melalui pasar non-deliverable forward (NDF), transaksi spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Baca juga: Harga Emas Naik ke US$4.178, Minyak Brent Melemah di Tengah Ketidakpastian Pasokan

Pelemahan hari ini melanjutkan tren negatif sepanjang pekan. Pada Rabu dan Kamis lalu, rupiah sudah dibuka melemah di kisaran Rp17.900-an per dolar AS, tertekan konflik Timur Tengah dan data inflasi AS.

Leave a Comment